Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!
Beberapa Solusi Untuk Mengurangi Terjadinya Pemanasan Global

Penyelamatan Hutan

VHRmedia.com, Jakarta - Greenpeace Indonesia mendesak pemerintah melindungi hutan di Papua. Perlindungan hutan diperlukan untuk menghambat pelepasan polusi hasil industri yang menyebabkan pemanasan global.

Juru kampanye hutan Greenpeace, Bustar Maitar, mengatakan hutan Indonesia berperan penting menghambat pelepasan gas-gas yang menyebabkan polusi. Apalagi Indonesia negara ketiga terbesar yang menyumbang pencemaran udara melalui sisa buangan gas industri. Sebagian besar gas itu dihasilkan dari pembukaan lahan dan pembakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan.

Greenpeace Indonesia mendukung masyarakat dan Pemerintah Daerah Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat dalam melindungi hutan dan memanfaatkan hutan untuk kesejahteraan masyarakat lokal.

Menurut Bustar, pemanfaatan hutan untuk kepentingan industri kayu dan perkebunan sama sekali tidak menguntungkan asyarakat di sekitar hutan. "Kami yakin Papua memiliki peluang untuk membuka jalur baru yang memungkinkan masyarakat mengelola hutannya untuk tujuan jangka panjang,"kata Bustar, Selasa (21/8).

Septer Manufandu, Sekretaris Eksekutif Forum Kerja Sama LSM Papua mengatakan, pemanasan global menyebabkan iklim di bumi t idak stabil. Perubahan iklim mengakibatkan meningkatnya permukaan air laut, banjir, kekeringan, serta menyusutnya luas area salju di pegunungan.

Jambi (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia perlu negoisasi dengan negara lain untuk mengurangi emisi di bidang kehutanan pada Konvensi Internasional perubahan iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) di Bali, Desember 2007.

Sebab Indonesia dalam konvensi tersebut akan membahas mekanisme insentif "Reducing Emission from Deforestation in Developing Countries" (REDD) yaitu pengurangan emisi dari deforestasi negara berkembang, kata Manajer Program Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Rudi Syaf di Jambi, Sabtu.

"Pengurangan emisi itu akan diberikan kepada negara Non-Annex I yang menjaga hutannya," ujarnya.

Ia menilai, Indonesia memiliki kesempatan baik membawa posisi yang kuat dalam mekanisme insentif REDD untuk mengukur laju kerusakan hutan.

Karena itu, Indonesia perlu negosiasi dengan kelompok-kelompok negara lain untuk mendapatkan dukungan REDD.

Jika langkah adaptasi dan pengurangan emisi sektor kehutanan dapat dipersiapakan dan diimplementasikan dengan serius maka Indonesia juga harus siap menghadapi kemungkinan yang terburuk dari perubahan iklim.

Perubahan iklim merupakan fenomena global, dan penyebabnya bersifal global, yakni kegiatan manusia di seluruh dunia.

Dampaknya juga bersifat global yang dirasakan seluruh makhluk hidup di berbagai belahan dunia. Oleh karena itu, solusinya harus bersifat global.

Tetapi dalam bentuk aksi lokal tidak bisa menghindar dari persoalan itu. Salah-satu cara untuk menahan laju perubahan iklim, yakni melalui kegiatan mitigasi atau mengurangi emisi gas rumah kaca. Ini bisa dilakukan, antara lain dengan menggunakan bahan bakar dari sumber energi menggunakan sumber energi yang terbarukan, seperti tenaga matahari, angin, dan biomassa.

Selain itu juga penting dilakukan untuk menghambat laju emisi karbon dengan mempertahankan hutan yang tersisa dan penghijauan hutan yang gundul, ungkap Rudi Syaf.

Penulis: Tri Wibowo Santoso

Program Pengendalian Polusi

Penggunaan kendaraan bermotor menyebabkan lebih banyak polusi udara daripada kegiatan lain apapun, menimbulkan hampir separo oksida nitrogen yang diakibatkan ulah manusia, dua pertiga karbon monoksida, dan separo hidrokarbon di kota-kota industri, di samping hampir seluruh timah di udara di negara-negara berkembang. Di sebagian besar negara berkembang, sumber pembangkit tenaga pemanas menimbulkan sampai dua pertiga emisi sulfur dioksida, dan antara sepertiga sampai setengah emisi total polutan udara yang lain. Jadi, dua prioritas utama bagi program pengendalian pencemaran adalah kendaraan bermotor dan sumber pembangkit tenaga, walaupun di beberapa negara berkembang pusat perhatian utama adalah pengendalian pencemaran yang timbul dari penggunaan batubara murah yang banyak digunakan untuk memasak dan alat pemanas rumah tangga.

Kecuali di kota-kota yang sarana transportasi utamanya masih sepeda dan jalan kaki, hampir tidak mungkin memerangi pencemaran udara tanpa "menyerang" pipa knalpot sepeda motor/skuter, mobil, truk, dan bus. Bahkan di kota-kota yang masih "didominasi"oleh sepeda, jumlah mobil kini semakin meningkat. Lebih dari 500 juta mobil dan kendaraan umum kini memadati jalan-jalan dunia, 10 kali lebih lipat jumlah pada 1950. Dan menurut proyeksi terbaru, jumlah kendaraan di dunia akan berlipat dua dalam 40 tahun mendatang, sampai kira-kira satu miliar. Kebanyakan pertambahan ini akan terjadi di negara-negara berkembang, yang permintaan untuk mobilnya diperkirakan meningkat 200 persen di akhir abad ini; dengan demikian sangat memperburuk masalah pencemaran saat ini, terutama di perkotaan.

Di daerah-daerah yang masih menggunakan bensin bermuatan timah, salah satu strategi pengendalian pencemaran yang paling efektif adalah sama sekali melarang penggunaan zat aditif tersebut, atau menurunkan secara tajam tingkat yang diperbolehkan dalam bensin. Ketika hal ini terjadi di AS, penggunaan bahan bakar bermuatan timah menurun lebih dari 50 persen dari tahun 1976 sampai 1980, dan mengakibatkan menurunnya kadar timah dalam darah sampai 37 persen. Beberapa kota dan negara amat menghendaki adanya bahan bakar alternatif yang membakar lebih bersih daripada bensin dan minyak diesel berbahan dasar petroleum yang konvensional. Pilihan-pilihan antara lain berupa campuran "berwawasan lingkungan", hasil formulasi ulang yang menurunkan daya menguapnya dan dengan demikian menurunkan pula daya emisi senyawa organik yang mudah menguap dan menurunkan konsentrasi benzene dan komponen beracun lain.

Pilihan lain adalah "mengoksigenas"bahan bakar tersebut dengan menambahkan alkohol. "Gasohol"(bensin dan alkohol) semacam itu terbakar lebih sempurna, dan dengan demikian menurunkan emisi karbon monoksida. Bahan bakar diesel dengan tingkat sulfur yang diturunkan mengeluarkan sulfur dioksida dan polutan lain yang lebih sedikit. Jenis-jenis bahan bakar hasil formulasi ulang dapat secara sendiri-sendiri menurunkan tingkat emisi sampai 30 persen, seperti yang terjadi di bagian Timur Laut AS ketika pertama kali diwajibkan di akhir 1980-an.

Pilihan lain yang lebih baik adalah alternatif non-petroleum seperti metanol, etanol, gas alam yang dimampatkan atau gas petroleum cair, hidrogen atau baterai listrik, karena bahan-bahan tersebut sama sekali menghapus pencemaran oleh pipa knalpot.

Jenis Kendaraan Bermotor Baru

Dengan adanya permintaan negara bagian California untuk memberlakukan aturan standar yang lebih ketat bagi penggunaan perangkat kendali pencemaran untuk mobil dan truk di tahun 1970-an, para pembuat katalis mulai memperbaiki mutu produk mereka dengan pengembangan sarana untuk memanaskan katalis sehingga mesin kendaraan dapat hidup lebih cepat dan pencemaran berkurang.

Persyaratan California itu juga membangkitkan arus inovasi dalam industri kendaraan. Walaupun mobil listrik merupakan salah satu kendaraan pertama di abad ini, teknologi ini tak berkembang sampai California menetapkan penjualan kendaraan tanpa emisi ("zero-emitting vehicles/ZEV"), mulai model tahun 1998. Sejak saat itu, boleh dikatakan semua pembuat mobil terkemuka di dunia, mulai BMW ampai General Motors, telah mengembangkan kendaraan bertenaga baterai, demikian pula sebagian pembangkit tenaga. Untuk membantu para pembuat mobil AS, pemerintah memberikan 8 juta dollar AS kepada US Advanced Battery Consortium untuk mengembangkan baterai yang ringan dan bertenaga tinggi.

Penulis: Curtis Moore Dari Makalah Hijau

Kembali ke Awal