Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!

Sisi Lain dari Ozon dan Efek Rumah Kaca
Oleh
IDEN WILDENSYAH

Perubahan iklim tampaknya bukan hal yang aneh. Ketika musim hujan berlangsung lama, terjadi musibah banjir. Saat musim kemarau, dimana-mana kesulitan air. Perubahan ini adalah salah satu fenomena global.

Di antara fenomena itu adalah penipisan lapisan ozon. Lapisan ozon merupakan tameng yang melindungi bumi dari radiasi sinar ultraviolet yang merusak. Penipisan lapisan ozon dapat meningkatkan berbagai penyakit infeksi seperti menurunnya kekebalan tubuh, kanker kulit, katarak mata, dan juga kerusakan pada lingkungan hidup. Kerusakan itu, mulai dari putusnya rantai makanan pada ekosistem akuatik di laut sampai gagalnya berbagai hasil panen. Juga kerusakan material pada bangunan dan benda-benda lain yang terkena langsung sinar matahari.

Pada tanggal 16 September yang merupakan hari ozon internasional, isu tentang ozon dan kerusakannya adalah salah satu isu yang terus menerus menjadi bahan kajian di beberapa negara. Kerusakan ozon tidak terlepas dari perilaku kita terhadap alam. Efek rumah kaca (ERK) yang menjadi salah satu penyebab dari kerusakan ozon. Ini terjadi antara lain karena penggundulan hutan, polusi, dan pencemaran udara lainnya.

Pencemaran lingkungan bahkan menjadi isu utama dalam film "The Day After Tomorrow". Digambarkan, selubung asap yang melapisi bumi tercemar lalu mengakibatkan siklus musim yang tidak normal dengan perubahan yang sangat ekstrem. Kejadian ini bukan mustahil bakal terjadi dalam kehidupan sekarang, di saat kerusakan lingkungan semakin tak terkendali.

ERK adalah salah satu fenomena dimana gelombang pendek radiasi matahari menembus atmosfer dan berubah menjadi gelombang panjang mencapai permukaan bumi. Setelah mencapai permukaan bumi, sebagian gelombang tersebut dipantulkan kembali ke atmosfer. Namun tidak seluruh gelombang yang dipantulkan itu dilepaskan ke angkasa luar. Sebagian gelombang panjang dipantulkan kembali oleh lapisan gas rumah kaca di atmosfer ke permukaan bumi.

Proses ini dapat berlangsung berulang kali, sementara gelombang yang masuk juga terus menerus bertambah. Akibatnya, terjadi akumulasi panas di atmosfe.

GRK

Gas rumah kaca (GRK) adalah gas yang diemisikan dari berbagai kegiatan manusia, yang memiliki kemampuan meneruskan gelombang pendek dan mengubahnya menjadi gelombang panjang. Selain itu, GRK juga memiliki kemampuan meneruskan sebagian gelombang panjang dan memantulkan gelombang panjang lainnya.

Dalam protokol Kyoto terdapat enam jenis GRK, yaitu karbondioksida (CO2), nitroksida (N2O), methana (CH4), sulfurheksaflourida (SF6), perflourokarbon (PFC), dan hidrofluorokarbon (HFC).

Secara alami, ERK telah terjadi sejak adanya atmosfer bumi dan efek inilah yang telah memungkinkan suhu bumi menjadi lebih hangat dan layak dihuni. Para ahli mengatakan tanpa adanya atmosfer dan ERK, suhu bumi akan sangat dingin, sekira 33 derajat celcius lebih dingin dibandingkan saat ini.

Hutan yang semakin rusak, baik karena kejadian alam maupun penebangan liar akan menambah jumlah GRK yang diemisikan ke atmosfer dan akan menurunkan fungsi hutan sebagai penghambat perubahan iklim. Demikian pula halnya dengan kegiatan peternakan dan pertanian yang merupakan penyumbang gas methana yang kekuatannya 21 kali lebih besar daripada gas karbondioksida.

Kontribusi sektor kehutanan dan perubahan lahan terutama disebabkan oleh tingginya laju kerusakan hutan di Indonesia. Forest Watch Indonesia mencatat dalam dekade terakhir ini laju kerusakan hutan sekitar 2 juta hektare setiap tahunnya. Data terakhir menunjukan bahwa kawasan hutan yang rusak telah mencapai lebih dari 43 juta hektare.

Pada saat terjadi kerusakan hutan akan terjadi pelepasan emisi karbon ke atmosfer. Melalui aktivitas deforestasi, sekitar 33 persen karbon akan dilepaskan ke atmosfer. Sementara akibat pembakaran biomassa dan dekomposisi, emisi karbon yang dilepas ke atmosfer adalah sebesar 32 persen dan 22 persen.

Disamping kerusakan hutan, penggunaan bahan-bahan CFC juga memicu kerusakan yang sangat besar pada lapisan ozon. Hal ini dikarenakan sulitnya negara berkembang menghadapi pilihan sulit dalam persaingan mencari pengganti bahan CFC, terutama harus diakui ketergantungannya pada negara maju di bidang teknologi canggih.

Sementara bahan yang sudah ada yaitu HCFC (hidroklorofluorokarbon) dan HFC (hidrofluorokarbon) hanya boleh digunakan dalam jangka waktu pendek (masa transisi) karena keduanya juga harus dihapuskan. HCFC masih mengandung klorin yang dapat merusak lapisan ozon, sementara HFC juga berpotensi sebagai GRK.

Di sisi lain, lubang ozon yang sudah terjadi tidak akan tertutup pada akhir abad mendatang bila tindakan untuk mengurangi pemakaian CFC dan bahan kimia sejenisnya tidak diikuti oleh semua warga negara di belahan manapun dan upaya penyelamatan lingkungan dari kerusakan haruslah menjadi aksi kerja sama semua pihak. Tindakan arif dan bijaksana dalam menggunakan barang-barang yang ramah lingkungan di sekitar kita akan membantu pada upaya penyelamatan lingkungan.

Penulis adalah Mahasiswa UPI Jurusan Teknik Bangunan

Banjir Sejagat, Mungkinkah?

Tiga dasawarsa ini, wacana banjir sejagat atau tenggelamnya pulau kecil (nusa) menjadi bahasan panas di sejumlah earth summit. Apalagi ada bukti bahwa sembilan dari sepuluh tahun terpanas pada abad ke-20 terjadi sejak tahun 1980-an dan terjadi pencairan es di kutub serta kenaikan muka air laut antara 15 - 25 cm pada 100 tahun terakhir.

Diyakini pula, perubahan iklim dapat mengubah pola sebaran penyakit malaria, DBD, flu unggas, kerusakan terumbu karang, hutan, pertanian, perkebunan, perpindahan penduduk pantai yang kebanjiran air laut khususnya pulau-pulau kecil dan penurunan ketersediaan air tawar atau air sungai (seperti di Kalimantan) yang menjadi payau karena pasang air laut. Yang paling menderita ialah negara berkembang karena secara geografis banyak yang berada di tropis. Diperkirakan 2 persen dari Produk Domestik Brutto (PDB) dunia lenyap akibat perubahan iklim dan kerugian terbesar diderita negara berkembang, antara 2 - 9 persen dari PDB-nya. Itu semua terkait dengan karbondioksida (CO2).

Karbondioksida ialah hasil pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara dan minyak yang banyak digunakan untuk pembangkit listrik, transportasi dan kegiatan rumah tangga. CO2 dan uap air inilah yang mengatur temperatur muka Bumi sehingga kehidupannya atau ekosistemnya terjaga sampai sekarang. Bumi dapat menyerap setengah dari energi total matahari dan sisanya dipantulkan serta sebagian lainnya diserap oleh gas-gas di atmosfer. Hampir 60 persen dari energi yang diserap itu digunakan untuk penguapan air laut, sungai, danau dan air tanah sedangkan 40 persen sisanya dilepaskan ke atmosfer sebagai radiasi gelombang panjang.

CO2, uap air dan gas lainnya menyerap sebagian besar energi ini dan diemisikan ke Bumi. Akibatnya, permukaan Bumi menjadi hangat. Fenomena ini disebut natural greenhouse effect. Artinya, ada korelasi antara kadar CO2 di atmosfer dan temperatur Bumi yang diduga sudah terjadi sejak 160.000 tahun yang lalu. Distribusi kontributor gas rumah kaca itu ialah CO2 49 persen, CH4 18 persen, N2O 6 persen, CFC 14 persen da gas lainnya 13 persen. Diduga pula, sebelum dihuni manusia, atmosfer Bumi telah berisi CO2, uap air dan gas lainnya sehingga planet ini menjadi hangat. Industri lantas melipatgandakan kadarnya menjadi 22 milyar ton/tahun dengan waktu retensi di atmosfer antara 50 - 200 tahun. Pada awal revolusi industri, kadar CO2 di atmosfer 280 ppm tetapi menjadi 383 ppm menurut pantauan IPCC tahun ini. Kalau nihil tindakan nyata dari semua negara, terutama negara maju, maka pada medio abad 21 ini kadar CO2 diprediksi mencapai 560 ppm sehingga temperatur naik 2 - 3 derajat Celcius. Lantas, terjadilah periode awal banjir sejagat. Betulkah demikian?

Banjir Sejagat

Ada pertanyaan, betulkah banjir sejagat atau minimal kematian pulau bisa terjadi karena GW? Tak dimungkiri, kenaikan konsentrasi CO2 menjadi salah satu sebab kenaikan temperatur Bumi. Bersama metana yang ke luar dari rawa, sawah, dan tangki septik, gas CO2 dimasukkan ke dalam gas rumah kaca (greenhouse gas) dan konsentrasinya kian besar karena industri otomotif. Tambah runyam lagi karena terjadi pembakaran atau kebakaran hutan seperti di Kalimantan dan Riau. Dua dekade terakhir ini Riau telah memusnahkan tiga juta hektar hutannya dan lahan kritisnya menjadi 2,4 juta ha. Di Karangasem juga, area hutannya hanya 16 persen dari luas wilayahnya, setengah dari luasan ideal 32 persen. Ini pun ikut memperbanyak CO2 di atmosfer (Bali Post, 18/11/07).

Jika demikian, betulkah nusa kecil bakal lenyap ditelan air laut? Teori yang bertalian dengan kenaikan muka air laut ialah teori pencairan "pulau" es di kutub atau Teori Lebur (Melting Theory). Dari data pasang surut air laut di sejumlah negara diperoleh gambaran bahwa fenomena tersebut betul terjadi walaupun bersifat lokal. Kenapa perlu dicermati? Karena ada dua perubahan penting yang mungkin terjadi, yaitu perubahan ketinggian muka air karena daratan bergerak relatif terhadap laut (perubahan isostatik) dan perubahan karena penambahan volume air laut dari pencairan es dan salju (perubahan eustatik) yang ada di daratan atau kontinental (benua).

Benarkah es di Kutub Utara dan Kutub Selatan dapat mencair? Banyak kalangan yang setuju dengan pendapat ini kalau terjadi peningkatan temperatur atmosfer. Alasannya, jika temperatur global naik maka muka air laut pun naik, karena gunung es dan salju mencair. Air es tersebut masuk ke laut sehingga permukaannya naik dan membanjiri daratan atau pantai, bahkan pulau-pulau kecil bisa tenggelam. Terasa dugaan itu betul alias masuk akal. Namun demikian, Kutub Utara dan Kutub Selatan memiliki karakter yang berbeda. Kutub Selatan atau Antartika ialah daratan atau tanah yang dilapisi es. Bisa dikatakan sebagai landas kontinen (benua). Lapisan es di Antartika menutupi semua permukaan tanah dan sebagian yang lainnya terapung. Sebaliknya, Kutub Utara atau Laut Artik adalah air laut yang membeku membentuk "pulau" dan gunung es. Dapat disimpulkan, Kutub Utara, selain Greenland yang berupa tanah, ialah bongkahan es yang terapung di laut.

Dengan demikian, apabila Global Warming terus berlanjut dan temperatur mondial terus naik, apa yang akan dialami oleh lempeng atau bukit-bukit es di kedua kutub tersebut? Jika "pulau-pulau terapung" di Kutub Utara mencair maka tidak akan banyak mempengaruhi ketinggian muka air laut! Kenapa? Analoginya ialah gelas yang penuh air, berisi sepotong es yang menyembul di permukaannya. Meskipun esnya habis mencair, tetapi air di gelas tidak akan tumpah. Pencairan es di Artik hanya akan mengubah wujudnya saja menjadi cair tetapi tidak punya efek untuk menaikkan permukaan air laut. Nihil dampaknya pada muka air laut.

Hal sebaliknya terjadi di Kutub Selatan. Pencairan gunung es yang ada di daratan Antartika dapat mempengaruhi ketinggian muka air laut. Volume total es di daratan Antartika cukup besar untuk menambah volume air laut. Tetapi perlu dicatat, karakter sistem lingkungan di Antartika sangat-sangat dingin. Temperaturnya jauh di bawah titik nol sehingga tipislah kemungkinannya es di sana dapat mencair. Artinya, pemanasan global tidak akan dapat mencairkan semua es di Antartika karena temperaturnya akan tetap berada di bawah nol. Seandainya akibat panas global itu temperatur di Kutub Selatan dapat mendekati nol sehingga es mulai mencair maka dapat disimpulkan bahwa semua manusia sudah mati karena temperatur atmosfernya sangat panas sebelum berdampak pada kenaikan muka air laut. Apalagi di daerah katulistiwa dan gurun pasir di Arab dan Afrika, temperaturnya pasti sudah sangat panas dan semua orang terkena heat stroke.

Namun hal kontradiktif dapat saja terjadi. Peningkatan temperatur di Kutub Selatan menyebabkan air laut di sekitarnya menguap. Hembusan angin lalu membawa uap itu ke Kutub Selatan yang akhirnya jatuh dan membeku di daratan Antartika. Jika proses ini berlangsung terus maka sejumlah air pindah dari laut ke darat yang berarti justru terjadi penurunan muka air laut. Sekali lagi, muka air laut justru turun! Jika pemanasan global punya efek pada pencairan es di Artik dan penguapan air laut di sekitar Antartika sehingga permukaannya turun, apakah secara global air laut akan tetap naik? Sulit menjawabnya dengan pasti karena bergantung pada jumlah volume es yang mencair di Artik dan jumlah volume air laut yang menguap dan membeku di daratan Antartika. Terlihat, kasus ini tidak sesederhana yang diduga sebagian kalangan bahwa jika Bumi memanas sama dengan pencairan es dan berarti kenaikan muka air laut naik.

Selain di Antartika, ada banyak es dan salju abadi karena tidak mencair sejak dulu, seperti di Pegunungan Jaya Wijaya (Papua) dan Himalaya (India). Pada awal abad ke-21 ini ada indikasi es tersebut mulai mencair. Jika pemanasan global berlanjut, boleh jadi semuanya akan mencair. Dari penelitian tentang pencairan gletser yang dilakukan Meier, terbukti bahwa terjadi kenaikan 2,8 cm muka air laut selama periode 1900-1961. IPCC pun memperkirakan akan terjadi kenaikan muka air laut sampai 29 cm pada tahun 2030 dan tahun 2070 menjadi 71 cm atau hampir 1 meter pada akhir abad 21 nanti. Ini berlaku jika emisi gas rumah kaca masih seperti saat ini apalagi jika ada peningkatan.

Akhir kata, dan ini yang pasti, CO2 hasil aktivitas manusia (anthropogenik) diyakini telah meningkatkan temperatur muka bumi. Diperkirakan, peningkatan dua kali kadar CO2 akan menaikkan temperatur Bumi antara 1,5 - 4,5 derajat Celcius dan berpengaruh pada pola iklim. Pemanasan global mungkin saja dapat mencairkan salju dan es yang mengakibatkan muka air laut naik. Namun demikian, mungkinkah temperatur atmosfer Bumi naik sekian puluh derajat sehingga semua esnya mencair? Mungkinkah pada saat itu manusia masih hidup? Sulit menjawabnya, perlu penelitian untuk memodelkan perubahan temperatur dan dampaknya pada es di daerah kutub, di daerah tropis dan subtropis.

Kembali ke Awal